• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Program Studi Magister dan Doktor Kependudukan
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Program Magister
    • Profil
    • Kurikulum
    • Akademik
  • Program Doktor
    • Profil
    • Kurikulum
    • Akademik
  • Admisi
    • Magister
    • Doktor
  • Fasilitas
  • Riset
  • Galeri
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Ruang Opini : Menangkal Bayang-Bayang Depopulasi Indonesia

Ruang Opini : Menangkal Bayang-Bayang Depopulasi Indonesia

  • Berita, Flash
  • 23 April 2026, 10.21
  • Oleh: kependudukan.pasca
  • 0

Indonesia hingga saat ini masih berada pada kondisi yang relatif aman dari ancaman depopulasi, sebagaimana ditunjukkan oleh proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang memperkirakan jumlah penduduk akan terus meningkat hingga mencapai sekitar 333 juta jiwa pada tahun 2050. Namun demikian, dalam perspektif statistik kependudukan, dinamika tersebut tidak dapat semata-mata dipahami sebagai indikator pertumbuhan, melainkan perlu dibaca sebagai bagian dari transformasi struktur demografi yang lebih kompleks.

Mahasiswa Program Studi Magiter Kependudukan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Muhammad Ilham Mubarok menempatkan data sebagai instrumen utama dalam memahami arah perubahan kependudukan. Baru-baru ini, dalam muatan redaksi katadata.co.id melalui analisis terhadap tren jangka panjang, ia menunjukkan bahwa fenomena depopulasi yang saat ini dialami oleh sejumlah negara maju merupakan hasil dari interaksi berbagai variabel demografis, sosial, dan ekonomi. Penurunan angka kelahiran, peningkatan usia harapan hidup, serta perubahan pola perilaku keluarga menjadi determinan utama yang membentuk struktur penduduk di berbagai negara tersebut.

Dalam kajian komparatif, Ilham mencermati pengalaman negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan sejumlah negara di Eropa yang tengah menghadapi tekanan demografis akibat rendahnya fertilitas. Dari sudut pandang statistik, fenomena ini tidak hanya tercermin pada indikator Total Fertility Rate (TFR), tetapi juga pada meningkatnya rasio ketergantungan dan menyusutnya proporsi penduduk usia produktif. Kondisi tersebut berimplikasi pada menurunnya kapasitas ekonomi dan meningkatnya beban fiskal negara dalam jangka panjang.
Fenomena yang terjadi di Jepang menjadi salah satu contoh empiris yang relevan dalam analisis Ilham. Negara tersebut telah memasuki fase hyper-aged society, yang ditandai dengan dominasi populasi lanjut usia dalam struktur penduduk. Berdasarkan pembacaan data, penurunan angka kelahiran yang berlangsung secara konsisten sejak dekade 1970-an telah mengakibatkan kontraksi populasi yang signifikan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada aspek demografi, tetapi juga pada dinamika sosial dan ekonomi, termasuk meningkatnya kebutuhan layanan lansia dan menurunnya ketersediaan tenaga kerja produktif.

Dalam konteks Indonesia, Ilham mengidentifikasi adanya kecenderungan awal yang mengarah pada perubahan pola fertilitas, khususnya di wilayah perkotaan. Data menunjukkan adanya penurunan angka kelahiran yang, meskipun masih berada dalam batas moderat, berpotensi berkembang seiring dengan perubahan nilai sosial dan tekanan ekonomi. Faktor-faktor seperti peningkatan biaya hidup, perubahan orientasi karier, serta berkembangnya nilai individualisme menjadi variabel yang mulai memengaruhi keputusan berkeluarga di kalangan generasi muda.

Menariknya, Ilham juga menyoroti bahwa keberhasilan program pengendalian penduduk di masa lalu, seperti program “dua anak cukup”, perlu dievaluasi kembali dalam konteks saat ini. Dari perspektif statistik, keberhasilan dalam menurunkan TFR harus diimbangi dengan kebijakan yang mampu menjaga keberlanjutan struktur penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan kependudukan bersifat dinamis dan memerlukan penyesuaian berbasis data secara berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, Ilham menegaskan pentingnya pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif dan berbasis bukti (evidence-based policy). Penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, peningkatan kesejahteraan keluarga muda, serta penciptaan lingkungan sosial yang mendukung keberlanjutan keluarga menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan. Bagi Ilham, data statistik tidak hanya berfungsi sebagai alat deskriptif, tetapi juga sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap perubahan demografi.

Pada akhirnya, melalui perspektif statistik kependudukan, Ilham menggarisbawahi bahwa tantangan utama Indonesia tidak hanya terletak pada pengendalian jumlah penduduk, tetapi pada kemampuan dalam menjaga keseimbangan antara kuantitas dan kualitas penduduk. Di tengah bayang-bayang depopulasi global, pemanfaatan data secara optimal menjadi kunci dalam memastikan bahwa pembangunan kependudukan berjalan secara berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi jangka panjang.

Penulis : Hikmatun Lampadjoa A.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Universitas Gadjah Mada

Program Studi Magister dan Doktor Kependudukan
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada

Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp/WA : 085700585484
Email : kependudukan.pasca@ugm.ac.id

 

 

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY