
Pacitan (10/25) – Penelitian dari KKL Magister Kependudukan di Desa Kayen, Kabupaten Pacitan, menunjukkan bahwa balita yang tinggal dalam rumah tangga multi-keluarga memiliki risiko sembilan kali lebih tinggi mengalami malnutrisi dibandingkan balita yang hidup dalam keluarga inti.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa sesuai dengan Teori Resource Dilution semakin banyak anggota keluarga yang tinggal serumah, semakin besar tekanan terhadap pembagian makanan, waktu pengasuhan, dan perhatian. Dalam struktur keluarga besar, kebutuhan gizi balita kerap kalah oleh kepentingan kolektif rumah tangga, sehingga praktik pemberian makan yang kurang sesuai standar kesehatan masih banyak terjadi.

Selain struktur keluarga, jumlah anak juga berpengaruh signifikan. Balita dari keluarga dengan lebih dari satu anak memiliki risiko malnutrisi lebih dari enam kali lipat, mencerminkan masih kuatnya persoalan resource dilution atau pengenceran sumber daya keluarga. Temuan ini berkaitan erat dengan agenda perencanaan keluarga sebagai bagian dari pencapaian SDGs.
Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah balita dari ibu yang mengurus rumah tangga penuh waktu justru lebih rentan mengalami malnutrisi dibandingkan balita dari ibu yang bekerja. Beban domestik yang tinggi serta rendahnya kewenangan ibu dalam pengambilan keputusan, terutama di rumah tangga multi-keluarga, menjadi faktor utama. Kondisi ini menyoroti pentingnya SDGs 5 (Kesetaraan Gender) dalam upaya perbaikan gizi anak.
Hasil penelitian KKL juga menegaskan bahwa pernikahan usia dini meningkatkan risiko malnutrisi balita. Ibu yang menikah pada usia ideal terbukti lebih mampu mengelola pengasuhan dan kebutuhan gizi anak, sehingga pernikahan dini dinilai sebagai hambatan serius bagi pembangunan sumber daya manusia.
Temuan dari Pacitan ini menegaskan bahwa persoalan malnutrisi balita bukan semata isu kesehatan atau ekonomi, melainkan juga persoalan struktur keluarga dan relasi sosial. Untuk mencapai target SDGs 2030, intervensi gizi dinilai perlu melibatkan seluruh anggota keluarga, lintas generasi, serta memperkuat posisi ibu dalam pengambilan keputusan rumah tangga.
“Jika SDGs ingin benar-benar tercapai, maka perubahan harus dimulai dari cara keluarga mengelola sumber daya dan mengambil keputusan untuk anak-anaknya,”
Penulis : Caesarean Fadhillah Putri